Follow
SIGN UP TO OUR NEWSLETTER

Get notifications from this website

Vaksinasi Booster Jadi Syarat Perjalanan Dalam Negeri Mulai 17 Juli 2022

Satgas Penanganan Covid-19 secara resmi telah menjadikan dosis penguat atau booster Covid-19 sebagai salah satu syarat perjalanan domestik. Syarat ini berlaku untuk seluruh jenis moda transportasi.

Dilansir dari Antara, aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 21 Tahun 2022 tentang Ketentuan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri yang yang diterima di Jakarta, Sabtu. Ketentuan itu berlaku mulai 17 Juli 2022.

Dalam SE tersebut, dijelaskan jika pelaku perjalanan yang sudah mendapatkan booster tidak lagi perlu menunjukkan bukti tes antigen maupun RT-PCR. Sementara bagi yang baru menerima vaksin Covid-19 dosis lengkap atau dua dosis primer wajib menunjukkan hasil negatif tes antigen yang berlaku 1×24 jam atau RT-PCR yang berlaku 3×24 jam.

Kemudian bagi pelaku perjalanan yang baru menerima vaksin dosis pertama wajib menunjukkan hasil negatif RT-PCR yang berlaku 3×24 jam. Sedangkan yang belum atau tidak bisa divaksin karena penyakit tertentu, wajib menunjukkan hasil negatif RT-PCR yang berlaku 3×24 jam berikut surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah.

Untuk pelaku perjalanan usia 6 hingga 17 tahun diwajibkan menunjukkan sertifikat vaksin dosis dua tanpa perlu hasil negatif tes RT-PCR atau rapid test Antigen. Namun bagi mereka yang baru vaksin dosis pertama atau belum vaksin, wajib menunjukkan hasil negatif RT-PCR yang berlaku 3×24 jam berikut surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah.

Pelaku perjalanan usia di bawah 6 tahun tidak perlu menunjukkan sertifikat vaksin ataupun hasil negatif swab Antigen/RT-PCR dan wajib melakukan perjalanan dengan pendamping yang memenuhi ketentuan vaksinasi dan pemeriksaan Covid-19.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Subbid Dukungan Kesehatan Bidang Darurat Satgas Covid-19 Alexander K. Ginting mengatakan pemerintah masih menggunakan indikator leveling pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk memonitor situasi penularan Covid-19 di populasi.

“Memang benar sudah 80 persen lebih kasusnya subvarian Omicron BA.4 BA.5 yang penularannya cepat, tapi tidak sevirulen Delta,” katanya.

Sejumlah penentu levelisasi PPKM berdasarkan indikator laju penularan, kasus konfirmasi, perawatan di rumah sakit, dan kematian, di mana transmisi komunitas dihitung per 100 ribu penduduk.

Indikator berikutnya adalah kapasitas respons yang meliputi testing atau positivity rate, tracing terhadap kontak erat, keterisian tempat tidur rumah sakit (BOR). Selain itu juga dihitung pencapaian vaksinasi dasar lengkap minimal 81,06 persen dan vaksinasi lengkap lansia 67,5 persen, kata Alexander.

“Perjalanan domestik dengan prinsip kehati-hatian, yaitu gunakan Aplikasi PeduliLindungi, vaksinasi booster, tidak lagi bergejala, serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan,” katanya.

Alexander menambahkan, meski pencapaian vaksinasi dasar sudah lengkap, tetap berpotensi terjadi penularan yang hebat sehingga perlu prokes yang ketat.

“Oleh karena itu, vaksinasi tiga kali saat ini menjadi target, sasaran, dan regulasi,” katanya.

Total
0
Shares
Previous Article

Gelandang Real Madrid jadi Model Balenciaga

Next Article

Roy 'Citayam' Tolak Beasiswa dari Kemenparekraf, Ingin Fokus jadi Konten Kreator

Related Posts
Total
0
Share